Ayah
“Teett.. teet.. teet…
teet..” pagi ini aku dibangunkan lagi oleh nada itu. Mendengarnya satu kali
berdering saja rasanya kepalaku ingin pecah. Suara yang begitu memekakkan
telinga dan juga dapat membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi emosi.
Dengan nyawa
yang masih belum terkumpul penuh, aku berusaha untuk bangkit dari ranjang yang
amat empuk ini. Langkah ku masih terasa gontai, tetapi aku tetap berjalan ke
arah jendela untuk membuka tirai. Mungkin karena
aku masih terlalu mengantuk, akhirnya kakiku menendang sebuah meja kecil yang
berada di samping ranjang. Sontak tanganku menarik tirai
dengan keras lalu terjatuh ke lantai sambil mengaduh “aawww…” untuk beberapa
saat, aku terduduk diam di lantai untuk merasakan denyutan pada tulang
keringku. Aku juga merasakan sinar matahari yang begitu hangat merasuki tubuhku
dan aku pun merasa nyaman dan tenang berada di bawahnya.
Sekali ku lirik
ke jam dinding, jarumnya sudah menunjukkan jam 6.40. Ahh masih jam segini kok, bentar lagi lah bisikku dalam hati.
Tiba-tiba…. “Haahh?!! Sudah jam 6.40? Tidaakk!” jeritan yang
memenuhi ruangan sontak membuat Ibu terkejut dan dengan segera menghampiriku.
Setelah mengetahui aku berlari tunggang-langgang mengambil handuk, peralatan
mandi dan pakaian, ia bertanya.
“Kak, kamu mau ngapain?”
“Ya mau sekolah la Bu, mau ngapain lagi”
jawabku sambil memasukkan buku-buku ke dalam tas, lalu hendak melangkah ke
kamar mandi.
“Sekolah mana yang buka hari Minggu…”
Jlep!! Tanpa ada perintah dari otak, langkah
kakiku langsung berhenti seketika. Dengan lemas, tanganku mengambil handphone yang ada di meja untuk melihat
tanggal hari ini. Aku pun mengutuki kebodohan yang aku lakukan pagi ini. Mimpi apa aku semalam sampai-sampai bisa
sesial ini. Aarrgghhh, hatiku berbicara lagi.
Ternyata hari
ini adalah hari Minggu, mungkin aku saja yang masih tidak bisa menerima
kesialan yang baru saja aku terima tadi. Ingin rasanya badan ini kembali ke
ranjang untuk melakukan tidur yang panjang, tetapi dengan cepat Ibu melarangku.
Lantas, kaki ini
kembali melangkah ke arah ruang makan untuk mengisi perut yang sudah kosong
sejak tadi. Tidak tahu mengapa selagi aku menyantap makanan pagi ini, jiwaku
serasa amat sepi dan sedih. Entah apa yang membuat ku merasa sangat kosong
seperti ini. Aku berusaha untuk mengabaikan perasaan yang ‘tak enak itu.
Sebelum aku
melanjutkan aktivitas seperti biasanya, aku ingin memanggil Ayah untuk membantuku
mengambil sebuah rotan yang berada diatas lemari.
“Ayaahh…. Ayahh??... Ayaaahhh?!!” aku
sudah beberapa kali memanggilnya tetapi aku tidak mendengar adanya suara Ayah
untuk menyahut panggilanku. Aku pun mencarinya di sekitaran rumah tetapi aku
tidak menemukannya.
Kakiku berlari
menemui Ibu untuk menanyakan keberadaan Ayah. Aku menjumpai Ibu yang sedang
membereskan kamarnya. Aku bertanya…
“Bu, Ayah kemana ya? Daritadi aku
panggil-panggil kok tidak ada?”
Ibu
yang tadinya sedang melipat selimut, kini terdiam memaku dan tersenyum kecut.
“Kiki, Ayah sudah pergi. Dia sudah
beristirahat dengan tenang diatas sana…”
Seketika
aku tertegun, dunia serasa berhenti dan pikiranku melayang kepada suatu
kejadian….
…
Kriing.. kriing.. suara sepedaku kembali
berdering.
“Ayah, nanti malam pokoknya Ayah harus
bantu aku mengerjakan tugas matematika dari
Bu Yuni. Susah banget Yah.. tidak mau
tahu, pokoknya harus!!” Kataku sambil memarkirkan sepeda di pinggir rumah.
“Iyaa, nanti Ayah bantu yaa. Sekarang,
kamu ganti pakaian dulu lalu pergilah makan siang. Setelah itu kamu datang
kemari dan bantu Ayah juga disini”
“Siap bos”
Saat
itu Ayah bekerja di bengkelnya dan sedang membenarkan sebuah mesin pada bagian
mobil yang sampai sekarang belum bisa aku pahami. Sambil aku menyantap makan
siang, sejenak aku mengingat kalimat Ayah yang berkata “Kak, nanti kalau kamu
sudah besar, jangan jadi seperti Ayah yang bisanya hanya memperbaiki mesin
kendaraan orang ya. Pokoknya, derajatmu harus lebih tinggi daripada kami”. Setelah aku selesai makan siangku, dengan
cepat aku menemui Ayah di bengkel. Aku melihat raut wajahnya yang kian menua,
lalu aku berkata
“Yah, tunggu Kiki sampai besar ya. Ayah
harus liat cucu Ayah. Pokoknya harus..!!” dengan sedikit menekan pada kata
‘harus’.
“Amiin Kak. Lagian yang mengatur hidup
kita kan Tuhan, kita hanya bisa menjalankannya”
Aku
dan Ayah pun melanjutkan kegiatan seperti biasanya lalu beberapa menit setelah
itu, Ibu datang mengantarkan teko kecil dan dua buah cangkir yang berisikan teh
manis. Ayah langsung meneguknya tanpa ada satu tetes yang tersisa.
“Wah, sepertinya ada yang lagi kehausan
sekali nih” ledekku, lalu kami
bertiga tertawa bersama.
Entah kenapa
sangat banyak orang diluar sana yang tak jarang membenci
keluarga yang ia miliki hanya karena keadaan ekonomi. Aku justru merasa biasa
saja atau bahkan aku bahagia berada di sebuah keluarga kecil yang hanya
beranggotakan 3 orang ini. Rumah kami tidaklah sebagus rumah-rumah pada
umumnya. Rumahku kami hanya bertembok papan dengan satu ruangan tambahan yang
berada di depan untuk usaha bengkel Ayah.
Aku melupakan
lamunan ku sejenak dan melanjutkan pekerjaanku membantu Ayah di bengkel.
Setelah mesin yang kami perbaiki telah usai, Ayah berkata
“Kak, Ayah mau mengantarkan mobil ini
dulu ya ke yang punya. Hanya sebentar kok,
Ayah langsung kembali”
“Jauh tidak rumahnya Yah? Kalau jauh,
biarkan aku ikut dengan Ayah saja”
“Tidak, kurang lebih hanya sekitar 7-8
menit kok. Kamu di rumah saja temani
Ibu mu”
“Yaaahh.. Ayah, tapi ‘kan aku mau ikut.
Ya sudah lah. Jangan lama ya Yah, ingat lho
Ayah punya janji kan sama Kiki?”
“Iyaa, Ayah ingat. Ya sudah, masuklah ke
dalam rumah dan temui Ibu mu. Katakan Ayah pergi sebentar untuk mengantarkan
mobil pelanggan”
“Oke sip Yah”
Aku
menemui Ibu di rumah dan mengantarkan pesan dari Ayah tadi. Setelah itu, aku
mandi dan bersiap-siap untuk menyantap makan malam yang telah ibu sediakan bagi
kami. Tadinya kami ingin menunggu kepulangan ayah, tetapi sampai pada jam 8.45
malam ia belum kunjung pulang. Akhirnya ibu memutuskan untuk makan duluan.
Sambil
menunggu kepulangan ayah, aku mengambil gitar butut yang sudah tua sekali ke
dalam pelukan ku. Secara perlahan, aku bersenandung lembut sambil ditemani
secangkir the manis hangat buatan Ibu. Aku bertahan pada posisi itu sampai 15
menit ke depan. Sontak aku terkejut bahwa aku masih memiliki tugas matematika
yang diberikan Bu Yuni tadi pagi. Duuhh, Ayah kenapa lama sekali ya pulangnya…
lirihku.
Aku
putuskan untuk mengerjakan tugas itu sendirian, takut nantinya ayah akan pulang
lebih larut sehingga akan melupakan tugas itu. Benar saja, sampai pada pukul 23.00
malam, ia belum juga pulang. Aku dan Ibu sangat mengkhawatirkan keberadaan dan
keadaan Ayah. Aku menunggu kepulangannya sambil membaca buku di ruang depan.
Entah apa yang terjadi aku tidak tahu lagi. Yang aku ingat, mata ku kian
memberat dan….
Keesokannya
aku terbangun pada pukul 06.30 pagi. Dengan cepat dan sigap aku langsung mandi,
makan dan berangkat kesekolah. Aku seperti lupa akan semuanya karena yang ada
dipikiranku hanya ada wajah Bu Yuni yang amat menyeramkan jika aku terlambat
masuk lagi. Ku percepat langkah dan meraih sepeda lalu menuju sekolah.
Pada periode
ke-4, yaitu tepat pelajaran Sains, suara Pak Seto guru BK terdengar nyaring
melalui mic yang dipasang dengan speaker.
“Bagi siswa yang bernama Fedrian Kiki,
harap sekarang ke ruang guru, terima kasih”
Sontak
aku gugup dan terkejut karena yang dipanggil adalah aku. Lantas aku langsung
pergi ke ruang guru dan aku melihat Ibuku disana. Melihat kedatanganku, ia
langsung memegang tanganku dan berkata dengan mata yang sedikit sembap.
“Kak, ambil tas mu ya. Kita pulang
sekarang, ada hal yang penting sekali”
Aku
tak berani bertanya ada apa, tetapi yang aku tahu sesuatu hal yang buruk telah
terjadi sampai-sampai membuat mata Ibu sedikit membengkak. Selama di perjalanan
pulang, ia tidak berkata sepatah kata pun tetapi isaknya masih terdengar samar.
Sesampainya
di rumahku, aku mendapati banyak sekali orang yang berbondong-bondong ingin
masuk ke rumah ku yang kecil ini. Selangkah aku masuk, aku melihat sesosok
orang yang aku cintai telah terbaring lemas diatas kain putih. Rasanya suhu
tubuhku menjadi panas, lututku bergemetar dan mataku memerah. Dengan beban tas
yang masih menempel di pundakku, aku terjatuh lemas ke pelukan Ayah yang sudah
tak berdaya itu. Seakan tak percaya dengan semua itu, aku berteriak
sekencang-kencangnya untuk meluapkan semua rasa emosi yang ditambah
ketidakrelaanku untuk melepas Ayah.
Ibu
memelukku dari belakang dan menenangkan ku. Ia sangat mengerti bagaimana
perasaanku saat itu sehingga ia mengajakku untuk pergi ke dapur dan berkata
“Kak, ini memang berat. Tapi kamu
haruuss nak..”
“Bagaimana bisa Bu?!! Ayah ‘kan sudah
janji kemarin mau bantu Kiki mengerjakan tugas. Tapi Ayah tidak datang dan dia
malah pergi untuk selamanyaa..” aku menjawab Ibu dengan nada suara membentak sekaligus isakan yang tidak pernah
aku lakukan sebelumnya selama aku berbicara dengan Ibu.
…
Setelah
mengingat semuanya, aku pun menyadari bahwa sekarang aku adalah seorang anak
tunggal tanpa Ayah. Aku benci kenyataan ini!! Ibu yang tadinya sedang melipat
selimut, kini telah berada di samping dan memelukku. Entah bagaimana caranya
aku dapat melupakan kematian Ayahku yang baru beberapa hari yang lalu. Mungkin
rasa sakit hati yang amat luar biasa ini telah membuat ku lupa akan semuanya.
Ibu berkata kembali..
“Ya sudah kak. Mandi dulu sana, nanti
kamu bantu Ibu ya ke pasar. Bahan-bahan untuk makan malam kita berdua belum
ada”
Mendengar
kata ‘berdua’ membuat hati ku kembali perih. Dahulu, yang aku dengar selalu
kata ‘kita bertiga’. Aku sangat sayang pada Ayah, aku selalu ingin mendengarkan
setiap nasihat yang keluar dari mulutnya. Sekarang, aku ingin Ayah kembali…
2
tahun kemudian~
“Ibuu!! Lihatlah nilai ku. Aku tidak
menyangka akan mendapatkan nilai yang sangat bagus seperti ini” kata ku sambil
berlari menemui Ibu di dapur dengan kaus kaki dan tas yang masih menempel di
seragam SMP ku.
“Wah, Ibu bangga sekali nak. Pertahankan
terus ya sayang.. Jangan mau kalah sama yang lain. Angkat derajat keluargamu ya
kak”
Mendengar
kata ‘angkat derajat’pada kalimat yang baru saja Ibu lontarkan, pikiranku
kembali melayang kepada kalimat emas yang pernah Ayah lontarkan kepada ku. Kak, nanti kalau kamu sudah besar, jangan
jadi seperti Ayah yang bisanya hanya memperbaiki mesin kendaraan orang ya. Pokoknya,
derajatmu harus lebih tinggi daripada kami, kalimat itu kembali terngiang…
“Bu, andai Ayah masih ada ya. Pasti dia
akan senang sekali aku naik kelas dengan nilai yang sebagus ini…”
“Dia sudah tersenyum dari atas kok kak. Dia akan selalu berada disini…
bersama kamu,,” sambil menunjuk hatiku dengan jari telunjuknya lembut.
Malamnya~
“Kak,
Ibu ada seseorang yang ingin dikenalkan sama kamu. Ibu harap kamu bisa
menerimanya yaa”
Lalu,
Ibu datang dengan seorang pria dewasa asing dan membawanya ke hadapanku. Aku
merasa kaget dan tidak menyukai kesan pertama yang pria itu berikan. Ibu
mengatakan bahwa pria ini akan menjadi pengganti Ayah. Sontak aku terkejut dan
langsung menarik tangan Ibu ke dapur.
“Apa maksud Ibu? Tidak ada yang bisa
menggantikan Ayaaahh, Bu!! Aku tidak mau!”
“Kak, ini demi kebaikan kita semua. Kita
sudah tidak memiliki pemasukan apapun untuk kelanjutan hidup disini.. kebetulan
dia teman SMA yang sudah menyukai Ibu sejak lama. Ia juga memiliki sebuah usaha
rumah makan kecil-kecilan yang nantinya bisa kita olah lagi. kita mau makan
dari mana sayang? Ibu tidak ada keterampilan apapun untuk itu.. Ibu sudah
sangat senang dengan prestasi kamu di sekolah. Tetapi Ibu ragu apa kamu akan
dapat melanjutkan sekolah nantinya? Ibu harap kamu mengerti kak..”
“Jadi Ibu lebih memilih laki-laki itu
dibanding Ayah?! Tega sekali Ibu berlaku seperti itu..”
“Sejujurnya Ibu lebih menyayangi Ayahmu
kak. Tetapi ini demi kebaikan kamu. Ibu takut sekali kalau nantinya jika kamu
tidak dapat bersekolah lagi. Biarpun Ibu tidak sepenuhnya memiliki hati dan
perasaan kepadanya, tetapi biarlah kamu tetap memiliki Ayah meskipun tiri..”
lirih Ibu.
“Ya sudah lah, Bu. Aku sudah capek. Aku
mau tidur. Terserah Ibu saja” Aku langsung memotong percakapan itu dan
melangkah ke kamar.
…
Sebuah kipas
angin butut menemani malamku yang
kelam dan kelabu di kamar. Tidak, aku tidak sendirian. Aku ditemani oleh gitar
peninggalan Ayah. Aku memeluk dan memetiknya secara perlahan sehingga aku dapat
bersenandung dengan merdu.
“Yah.. Ayah mau ‘kan mengajari aku caranya bermain
gitar, soalnya aku punya satu teman di kelas dan dia sangat mahir memainkannya,
‘kan aku jadi iri Yah..”
“Iyaa kak boleh..”
“Yeey!! Kalau mulai malam ini bagaimana Yah?
Kebetulan aku sedang tidak ada tugas untuk besok”
“Ya sudah kalau begitu. Ambilkan gitarnya di bawah
meja Ayah di kamar”
-mengambil
gitar-
”Ini Yah..”
“Nah, sekarang coba praktekkan bagaimana cara
memegang gitar yang baik”
“Ehmm, seperti ini bukan, Yah?” dengan posisi tangan
yang menurut ku benar.
“Hahahahaa.. bukan kak. Masa iya batang gitarnya ada
kanan. Ada-ada saja kamu ini”
“Ohh hehee ‘kan baru belajar Yah. Ahh Ayah bagaimana
sih..”
Kami tertawa bersama karena kebodohan yang baru saja
aku lakukan. Hahaha, yaa aku sangat menyukai wajah Ayahku saat melihatnya
tertawa. Hal itu akan membuat matanya yang sudah sipit menjadi semakin sipit
lagi sehingga matanya hampir ‘tak terlihat. Kami pun melanjutkannya dengan
mengetahui interval dan juga kunci-kunci dasar pada nada. Begitu sabarnya Ayah
untuk mengajari ku walau selalu salah dalam menempatkan jariku.
Setelah 4 hari mempelajari gitar dengan Ayah, aku
merasakan sakit pada jari-jari kiriku yang cukup menyiksa. Pada ujung
jari-jariku, keseluruhannya merah dan seperti ingin bernanah. Awalnya aku tidak
mengetahui sebab-musabab dari tragedi yang menyakitkan ini.
“Ayaahh, jari ku sakit sekalii.. apa ini karena aku
belajar main gitar ya Yah?”
“Iyaa kak. Bagi pemula memang itu hal yang biasa.
Kalau kamu mau terus belajar gitar, nantinya kamu akan terbiasa dengan sakit
itu dan akan mahir memainkannya. Hayoo, mau berhenti saja atau lanjut?”
“Lanjut dong!!”
Aku merindukan
Ayah..
…
Tidak terasa
sudah memasuki tahun ke-2 aku memiliki Ayah tiri. Bagaimana pun aku tidak
menyukainya. Walau dia sama sekali tidak memiliki kesalahan apapun padaku,
tetapi tetap saja. Dia sudah berani menggantikan posisi Ayah. Dapat dihitung
dalam satu hari hanya beberapa percakapan saja yang kami lakukan.
Tentunya, aku juga
dapat merasakan adanya peningkatan pada ekonomi keluarga kami. Ayah tiriku
sudah merenovasi rumah kami yang sudah sangat memprihatinkan ini. Tempat
bengkelnya Ayah juga telah disihirnya menjadi sebuah kedai kecil sebagai
pekerjaan Ibu jika dia memiliki waktu luang. Sampai sekarang aku juga masih
dapat melanjutkan sekolahku sampai aku menduduki kelas 3 SMP. Sebenarnya aku
sangat bersyukur memiliki Ayah tiri yang baik seperti dia. Tidak seperti
kebanyakan orang tua tiri yang jahat dan kejam seperti yang diceritakan pada
film-film yang pernah aku tonton.
Rasanya hati ini
masih sangat sulit untuk menerimanya menjadi sosok Ayah yang baru biarpun sudah
2 tahun kami hidup bersama. Terkadang aku berpikir, kenapa sih aku membencinya? Padahal dia sudah sangat membantu keluarga
ku terutama Ibu. Dia juga sama sekali tidak pernah berlaku kasar kepadaku. Apa
yang aku perbuat ini ya, Tuhan?
2
minggu kemudian~
“Kak, Ayah punya kenalan di tempat kerja
Ayah. Katanya, anaknya baru saja lolos masuk ke dalam sekolah bertaraf Internasional
di Kota. Jadi Ayah berpikir akan mengikutsertakan kamu juga. Nilai-nilai
akademikmu juga bagus-bagus ‘kan? Kamu mau nak?”
Jlep!! Dari mana dia tahu kalau aku memiliki
nilai-nilai yang baik? Ahh pasti Ibu yang memberitahukannya, kataku dalam
hati.
“Ya sudah, aku mau… Ayah” dengan kata ‘ayah’ yang hanya terucap dalam hati.
Kata
itu keluar begitu saja dari mulutku. Sebenarnya, aku sangat ingin memanggilnya
Ayah. Tetapi rasanya kata itu selalu tersangkut pada tenggorokanku dan akhirnya
tidak terucapkan.
Mulai
hari itu juga, aku ingin mengubah sikapku kepada Ayah tiri yang selama ini
sudah sangat menyayangiku dengan tulus dan sabarnya. Aku mulai memanggilnya
dengan sebutan Ayah walaupun terasa masih berat dan juga mulai membantu dalam
mengerjakan pekerjaannya. Ia terlihat sangat senang dengan perubahanku yang
menurutnya sangat mengejutkan ini.
Beberapa
hari kemudian, Ayah menemaniku untuk mengikuti test yang diadakan untuk masuk
ke sekolah yang bertaraf Internasional itu. Ia dengan sabarnya menunggu ku dari
mulai pukul 12.00 sampai pada pukul 14.30. Aku heran, mengapa dia tidak pulang
dulu saja ke rumah dan mengerjakan apa saja yang bisa dia kerjakan? Tetapi ia
berkata bahwa dia ingin sekali menemaniku dan berharap aku dapat lulus dalam
test itu.
Keesokannya~
“Bu.. ada lihat baju basket ku tidak?
Aku mau latihan nih”
“Tidak kak, memangnya kamu letakin dimana kemarin?”
“Ahh Ibu.. kalau saja aku tahu, aku
tidak akan bertanya sama Ibu ‘kan? Astagaa sudah jam segini, tuh ‘kan Bu aku sudah mau telat ini..”
“Ya sudah, kamu pakai baju yang lain
saja dulu. Nanti Ibu dan Ayah akan mencarinya.. sudah pergilah nak, nanti kamu
semakin terlambat”
“Daahh
Ibu”
“Ya sayang, hati-hati naik sepedanya
yaa”
Sepeda
ku dayung kian kencangnya, berharap aku tidak akan terlambat. Tetapi pupus sudah
harapanku. Ketika sampai di sekolah, tidak ada satu pun murid basket yang
terlihat oleh mata ku. Aku melangkah kelapangan basket, dan dengan seketika aku
mendengar suara Pak Bambang guru basket meneriakkan sebuah nama. Tamatlah riwayat ku
“Kikiiii!! Sini kamuu..!” katanya dengan
garang
…
2
minggu kemudian~
Krriiing.. Kriingg.. Kriing..
Suara itu
menandakan kepulanganku ke rumah. Rumah yang mengajarkan ku banyak nilai-nilai
kehidupan. Disinilah tempatku tumbuh dan berkembang dan dididik oleh ketiga
orang tua ku. Ya, Ayah, Ibu, dan juga Ayah tiriku. Sambil memarkirkan sepeda ke
pinggir, aku melihat Ibu ku duduk di teras dengan sebuah map kertas berwarna
kuning emas di tangannya. Aku sama sekali tidak tahu berita apa yang membuat
wajahnya kian bersinar bak mentari pagi.
Dengan cepat ia
melangkahkan kaki ke arahku, memelukku, serta menangis terharu di pundakku. Dibalik
pelukan Ibu yang sedikit menghalangi pandanganku, aku melihat dengan sekilas
Ayah yang berjalan menuju kami. Lantas, ia ikut tersenyum dan memelukku. Sepertinya aku tahu ada apa, kataku
dalam hati.
Benar saja, Ibu
mengatakan bahwa aku lulus seleksi untuk masuk ke sekolah bertaraf
Internasional dengan beasiswa. Terimakasih
ya Tuhaann.. akhirnya aku dapat memenuhi permintaan Ayah yang akan mengangkat
derajatku dan keluargaku. Aku ‘tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan
yang telah memberikan Ayah tiri yang sudah sangat baik pada ku. Jika tanpa
kehadirannya, mungkin sampai sekarang aku belum memiliki jalan untuk memenuhi
permintaan Ayah itu.
Hari-hari yang
aku lewati semakin terasa menyenangkan. Pada saat aku mulai menerima keberadaan
dan posisi Ayah tiri ku di rumah, dari situ lah aku merasakan kedamaian dan
kehangatan dalam hati juga jiwaku. Aku mulai menyayangi Ayah tiriku…
…
Pada
suatu malam yang ditemani oleh hujan yang deras, aku duduk menyendiri di kamar.
Aku sedang asyiknya mengkhayalkan kehidupanku kelak jika telah bersekolah di
sekolah yang aku dambakan itu, ya walaupun memakai sistem asrama tetapi aku
yakin ini adalah jalan yang tepat. Mungkin di karenakan cuaca yang dingin
akibat hujan, perutku pun mulai ‘bernyanyi’ dengan lembut. Dengan langkah
gontai aku melangkahkan kaki ke arah dapur, membuka kulkas, dan siap untuk
mencomot beberapa roti yang telah tersedia di sana. Aku melangkah lagi ke kamar
dengan membawa beberapa roti serta selai ke kamar serta melanjutkan lamunanku
yang sempat terputus tadi.
Ketika
aku melewati kamar orang tuaku, Aku tidak melihat Ibu dan aku hanya melihat
Ayah tiriku di sana. Lantas aku masuk ke dalam kamar dan menemuinya sedang
menulis sesuatu. Mengetahui keberadaanku, dengan cepat ia memasukkan kertas
yang tadinya sedang ia tuliskan ke dalam laci.
“Yah, Ibu mana? Kok tidak ada?”
“Tadi dia ke rumah sebelah kak, ada hal
yang penting katanya..”
“Ohh begitu.. eh ini aku bawakan roti.
Ayah mau tidak?” Astagaa.. bagaimana
mungkin kalimat itu bisa terucap? Aku sama sekali tidak berniat untuk
menawarkannya roti ini.. Tetapi, ahh ya sudah lah. Toh sekarang, dia adalah
Ayah ku juga.
”Wah, boleh.. boleh.. kebetulan Ayah
juga sedikit lapar hehe”
Alhasil untuk yang kali pertama aku
makan berdua dengan Ayah tiriku...
Beberapa
bulan setelah itu~
-Bandara-
“Kak, kamu hati-hati yaa disana. Ingat!
Selalu dekat dengan Tuhan dan juga komunikasi dengan kami yang ada disini”
“Iya Ibu.. doakan juga aku selalu.
Semoga nantinya jika aku pulang aku akan membawa kesuksesan yang aku janjikan
dengan Ibu”
Seketika Ibu melingkarkan lengannya ke pundakku dan
menangis lagi. Sepertinya ia masih begitu berat untuk melepaskan aku anak
sematawayangnya untuk pergi bersekolah di kota lain. Tetapi ini harus! Aku
harus bisa memenuhi janji ku kepada orang tuaku. Aku merasakan kehangatan
napasnya tepat di pundak kiriku. Setelah Ibu memelukku, pandangan ini pun
beralih ke Ayah tiri. Aku dengan segera memeluknya dengan sangat erat. Ayah melepaskan pelukannya. Begitu pula aku. Dalam jarak
yang amat dekat mata kami bersitatap. Mata Ayah juga mulai berkaca-kaca.
Beberapa menit kami terdiam. Seperti ada bahasa yang susah disampaikan. Setelah itu aku
memulai petualangan ku untuk menuju kesuksesan yang sudah menantikan kedatangan
ku.
…
2
bulan kemudian~
Tak terasa sudah
aku hidup jauh dari orang tua selama 2 bulan. Sebenarnya bukanlah hal yang
terlalu sulit, asalkan kita dapat mandiri dalam melakukan segala sesuatu.
Minggu ini, adalah minggu ujian. Dimana seluruh siswa-siswinya mengadakan UTS.
Sebelum aku memulai hari pertamaku mengadakan ujian di sekolah ini, aku
menyempatkan waktu ku untuk menelepon orang tua nan jauh di sana.
Hari pertama dan
kedua, aku lalui dengan lancar. Tetapi di hari yang ketiga, setelah pulang
sekolah aku mendapat kabar yang sangat-sangat buruk. Kabar yang mampu membuat
ku diam seribu bahasa. Kabar yang ‘tak ku duga akan seperti ini.
“Halo kak, ini Ibu” dengan suara yang
serak seperti habis menangis.
“Lho..
Ibu kenapa? Ibu habis menangis ya? Siapa yang buat Ibu sedih? Ayo cerita ke
Kiki, Bu..”
“Ayah mu… Ayah mu meninggal nak..” kata
Ibu dengan suara yang amat parau
“Ih Ibu jangan bercanda dong..” dengan sedikit deg-degan, takut hal yang dikatakan oleh
Ibu adalah benar.
“Iya sayang.. Ia mengalami kecelakaan
pada saat dia sedang pergi ke bank untuk mengirimkan uang kepada mu, kak. Ibu
juga tidak tahu bagaimana itu semua bisa terjadi. Tetapi sebuah sedan hitam kecoklatan
menghantam tubuh Ayahmu pada saat ia menyebrang sampai ia langsung meninggal
pada saat itu juga”
Tak tahan dengan
kalimat yang baru saja ia lontarkan, ia kembali menangis dengan sedihnya lewat
telepon yang masih tertempel di telinga kanan ku. Tak kuat mendengar tangisan
Ibu yang sangat memedihkan hati, aku menangis dalam diam. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini. Apakah tidak cukup bagimu telah
mengambil Ayahku? Mengapa sekarang Engkau mengambil Ayah tiriku, Tuhan? Kesalahan
apa yang telah aku perbuat sehingga aku tak layak memiliki seorang Ayah? Hidup
ini tidak adil!!
…
Sejak saat itu
aku melanjutkan hari-hari di asrama ku dengan setengah hati. Aku masih tidak
dapat menerima semua kenyataan pahit yang harus aku terima ini. Hingga beberapa
hari kemudian pasca kematian Ayah, Ibu kembali berbicara melalui telepon.
“Kak, bagaimana kabarmu disana? Sudah
makan siang belum?”
“Ya Puji Tuhan sehat. Sudah kok, Bu.. tadi lauknya juga enak. Ibu
sudah makan juga kah?”
“Iya Ibu juga sudah makan kak. Ohya kak kamu masih simpan koper kamu
yang kemarin kamu bawa tidak?”
“Iya, Bu. Kenapa?”
“Ibu baru mengingat kalau kemarin
sewaktu kita ada di bandara, Ayah mu sempat menyelipkan sebuah surat di kantung
yang paling kecil yang ada di kopermu. Coba nanti kamu periksa ya, siapa tahu
masih ada”
“Lho,
kok bisa Bu?”
~~
“Yah..
Ayah ngapain malam-malam begini belum tidur, itu sedang apa?”
“Nggak
apa-apa, Bu”
“Nah,
itu surat untuk siapa Yah?”
“Ini
surat untuk Kiki. Nanti kalau misalnya dia sudah berangkat ke sekolahnya,
tolong katakan bahwa aku telah menyelipkan surat ini pada kopernya di laci yang
paling kecil ya, Bu”
“Iya
Yah.. Tetapi itu suratnya tentang apa kalau boleh tahu?”
“Ya..
Ibu lihat sajalah nanti”…
Setelah
selesai bertelepon dengan Ibu, aku langsung berlari ke arah gudang untuk
mengambil koperku. Bau apek dan berdebu dengan cepat menghiasi indra penciuman
dan penglihatanku. Ahh betapa kotornya
tempat ini, gerutu ku dalam hati. Lantas aku menemukan koper itu dan
memeriksa tiap lacinya. Benar. Aku menemukan sepucuk surat yang telah dilipat dengan
manisnya. Dengan perlahan aku mengambil surat itu dan membawanya keluar, ke
kamar ku.
Aku
membaca surat itu dengan sangat hati-hati. Aku merasa pipi ku telah basah dan air
mata pun akhirnya keluar dengan deras. Sepertinya mataku sudah ‘tak sanggup
lagi untuk membendungnya. Rasa perih yang dengan cepatnya menjalar keseluruh
tubuhku membuat hatiku melemah. Surat itu terjatuh karena getaran tanganku yang
kian menguat. Aku menangis sejadi-jadinya..
...
Nak…
Air mata ini tak mampu mengungkapkan kesedihan saat kau
‘kan pergi
Semua yang telah kau lakukan akan selalu menjadi memori
yang indah ‘tuk di kenang,
Biarpun engkau bukanlah darah dagingku..
Akan ku korbankan semuanya,
Hanya untuk menikmati senyummu
Kejar impianmu dan jangan menyerah
Aku menyayangimu anakku..
Ayah