Kamis, 14 Mei 2015

Asal usul nama Simalungun



Asal usul nama Simalungun


            Pada suatu hari, ada sebuah daerah di wilayah Sumatra Utara yang dinamakan dengan  Nagur. Di daerah ini terdapat suatu  Kerajaan kecil bernama Kerajaan Tanah Djawo. Di Kerajaan ini, rakyatnya mayoritas bermarga Sinaga. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang Raja yang amat ramah, baik hati dan bijaksana. Ia disukai oleh semua rakyatnya.
            Sementara itu, di luar Kerajaan Nagur terdapat pula 2 kerajaan bersuku batak yang berlainan marga, yaitu Kerajaan Silou dengan marga Purba dan Kerajaan Raya dengan marga Saragih. Meskipun berlainan marga, tetapi ketiga kerajaan kecil ini tetap saling menjaga hubungan yang baik. Masyarakatnya pun berlaku demikian, senantiasa bersahabat, hidup rukun dan makmur. Kemakmuran ketiga kerajaan kecil tersebut ternyata mengundang niat jahat dari kerajaan lain untuk menguasainya.
            Suatu hari terdengarlah kabar bahwa Kerajaan Majapahit dari tanah Jawa akan datang untuk menguasai Kerajaan Djawo. Mengetahui hal tersebut, Raja Djawo dengan cepat meminta bantuan kepada Raja Silou dan Raja Raya agar mau membantu kerajaannya melawan pasukan Majapahit. Akhirnya, kedua kerajaan itu pun bersedia untuk membantu Kerajaan Djawo dalam menangkal serangan dari Kerajaan Majapahit.
            Ternyata bantuan dari kedua kerajaan tersebut berhasil mengalahkan dan mengusir prajurit-prajurit Kerajaan majapahit dari wilayah Nagur. Selang beberapa minggu, hal yang sama juga terjadi di Kerajaan Silou. Kerajaan ini di serang oleh Kerajaan Aceh. Tetapi dengan bantuan Kerajaan Nagur dan Kerajaan Raya, Kerajaan Silou terbebas dari ancaman dan serangan dari musuh.
            Suatu ketika, ribuan tentara yang tidak diketahui dari mana asalnya datang dengan tiba-tiba dan menyerang ketiga kerajaan tersebut dengan waktu yang bersamaan. Mereka pun tidak bisa untuk saling membantu lagi, karena jumlah tentara yang melebihi perkiraan mereka. Serangan yang bertubi-tubi memaksa mereka untuk berhamburan keluar wilayah untuk menyelamatkan diri masing-masing.  Tetapi hanya masyarakat dari Kerajaan Nagur saja yang berhasil menyelamatkan diri, sedangkan kedua kerajaan lainnya sudah dikuasai oleh tentara-tentara tersebut.
            Nasib para pengungsi juga sangat memprihatinkan. Mereka dilanda kelaparan dan diserang berbagai macam penyakit. Demi mempertahankan hidup, mereka pun hidup berpindah-pindah untuk mencari wilayah yang cocok untuk ditinggali. Akhirnya mereka pun menemukan sebuah daerah yang bernama tanah Sahili Misir  (yang kini dikenal degan nama Pulau Samosir) yang menurut mereka baik untuk ditempati. Mereka pun mulai menata hidup yang baru dengan bercocok tanam dan beternak.
            Setelah sekian lama mereka menetap, hidup mereka juga sudah mulai tertata. Bahkan mereka sudah memiliki anak dan cucu. Suatu ketika kebanyakan dari mereka merasa rindu akan kampung halaman yang dulunya mereka tempati, tanah Nagur. Mereka akhirnya mengadakan musyawarah.
            Pemimpin sesepuh dari musyawarah tersebut bertanya kepada rakyatnya siapa yang ingin kembali ke tanah Nagur. Sebagian dari mereka ada yang mau, dan ada juga yang tidak mau.
“Maaf Tuan Sesepuh, sebenarnya kami pun sangat rindu akan kampung halaman Nagur. Tetapi  kami sudah merasa nyaman tingggal di pulau ini. Tempat ini sudah seperti kampung halaman sendiri. Lagi pula, siapa yang akan menjaga hewan ternak dan ladang-ladang jika semuanya kembali ke kampung?” jawab salah seorang dari mereka.
“Baiklah kalau begitu. Bagi yang tetap ingin tinggal disini, ku harap kalian tetap merawat baik-baik tempat ini. Bagi yang ingin kembali, harap segera mempersiapkan segala sesuatunya,” ujar sesepuh itu.
            Para warga yang ingin kembali akhirnya mempersiapkan barang-barang mereka dan berangkat ke Nagur. Perjalanan pun memakan waktu berhari-hari agar mereka tiba disana. Setelah berhari-hari menempuh perjalanan, mereka akhirnya tiba di kampung Nagur. Saat mereka tiba, terlihat beberapa warga yang menangis sedih. Mereka teringat pada peristiwa yang menimpa mereka. Sekarang, di daerah itu sudah tidak terlihat lagi rumah-rumah warga. Semuanya sudah rata dengan tanah dan menjadi tempat yang baik untuk tumbuhnya tanaman-tanaman liar dan semak belukar.
Sima-sima nalungun,” kata mereka.
            Sejak itulah nama daerah Nagur diubah menjadi Sima-sima Nalungun. Kata tersebut berasal dari bahasa batak yang berarti daerah sepi dan sunyi. Lama-kelamaan, orang-orang menyebutnya Simalungun. Hingga saat ini, kata Simalungun tetap dipakai untuk menyebut nama sebuah Kabupaten di Provinsi Umatra Utara. 


Analisis Budi Pekerti
1.      Individu : penyayang, menjadi lebih bijak dan baik.
2.      Sosial : saling membantu dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain, tidak adanya perbedaan antara marga dan suku.
3.      Ketuhanan : -

Jumat, 24 April 2015

cerpen il



Ayah


“Teett.. teet.. teet… teet..” pagi ini aku dibangunkan lagi oleh nada itu. Mendengarnya satu kali berdering saja rasanya kepalaku ingin pecah. Suara yang begitu memekakkan telinga dan juga dapat membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi emosi. 
Dengan nyawa yang masih belum terkumpul penuh, aku berusaha untuk bangkit dari ranjang yang amat empuk ini. Langkah ku masih terasa gontai, tetapi aku tetap berjalan ke arah jendela untuk membuka tirai. Mungkin karena aku masih terlalu mengantuk, akhirnya kakiku menendang sebuah meja kecil yang berada di samping ranjang. Sontak tanganku menarik tirai dengan keras lalu terjatuh ke lantai sambil mengaduh “aawww…” untuk beberapa saat, aku terduduk diam di lantai untuk merasakan denyutan pada tulang keringku. Aku juga merasakan sinar matahari yang begitu hangat merasuki tubuhku dan aku pun merasa nyaman dan tenang berada di bawahnya.
Sekali ku lirik ke jam dinding, jarumnya sudah menunjukkan jam 6.40. Ahh masih jam segini kok, bentar lagi lah bisikku dalam hati. Tiba-tiba…. “Haahh?!! Sudah jam 6.40? Tidaakk!” jeritan yang memenuhi ruangan sontak membuat Ibu terkejut dan dengan segera menghampiriku. Setelah mengetahui aku berlari tunggang-langgang mengambil handuk, peralatan mandi dan pakaian, ia bertanya.
“Kak, kamu mau ngapain?”
“Ya mau sekolah la Bu, mau ngapain lagi” jawabku sambil memasukkan buku-buku ke dalam tas, lalu hendak melangkah ke kamar mandi.
“Sekolah mana yang buka hari Minggu…”
Jlep!! Tanpa ada perintah dari otak, langkah kakiku langsung berhenti seketika. Dengan lemas, tanganku mengambil handphone yang ada di meja untuk melihat tanggal hari ini. Aku pun mengutuki kebodohan yang aku lakukan pagi ini. Mimpi apa aku semalam sampai-sampai bisa sesial ini. Aarrgghhh, hatiku berbicara lagi.
Ternyata hari ini adalah hari Minggu, mungkin aku saja yang masih tidak bisa menerima kesialan yang baru saja aku terima tadi. Ingin rasanya badan ini kembali ke ranjang untuk melakukan tidur yang panjang, tetapi dengan cepat Ibu melarangku.
Lantas, kaki ini kembali melangkah ke arah ruang makan untuk mengisi perut yang sudah kosong sejak tadi. Tidak tahu mengapa selagi aku menyantap makanan pagi ini, jiwaku serasa amat sepi dan sedih. Entah apa yang membuat ku merasa sangat kosong seperti ini. Aku berusaha untuk mengabaikan perasaan yang ‘tak enak itu.



Sebelum aku melanjutkan aktivitas seperti biasanya, aku ingin memanggil Ayah untuk membantuku mengambil sebuah rotan yang berada diatas lemari.
“Ayaahh…. Ayahh??... Ayaaahhh?!!” aku sudah beberapa kali memanggilnya tetapi aku tidak mendengar adanya suara Ayah untuk menyahut panggilanku. Aku pun mencarinya di sekitaran rumah tetapi aku tidak menemukannya.
Kakiku berlari menemui Ibu untuk menanyakan keberadaan Ayah. Aku menjumpai Ibu yang sedang membereskan kamarnya. Aku bertanya…
“Bu, Ayah kemana ya? Daritadi aku panggil-panggil kok tidak ada?”
            Ibu yang tadinya sedang melipat selimut, kini terdiam memaku dan tersenyum kecut.
“Kiki, Ayah sudah pergi. Dia sudah beristirahat dengan tenang diatas sana…”
            Seketika aku tertegun, dunia serasa berhenti dan pikiranku melayang kepada suatu kejadian….



Kriing.. kriing.. suara sepedaku kembali berdering.
“Ayah, nanti malam pokoknya Ayah harus bantu aku mengerjakan tugas matematika dari Bu Yuni. Susah banget Yah.. tidak mau tahu, pokoknya harus!!” Kataku sambil memarkirkan sepeda di pinggir rumah.
“Iyaa, nanti Ayah bantu yaa. Sekarang, kamu ganti pakaian dulu lalu pergilah makan siang. Setelah itu kamu datang kemari dan bantu Ayah juga disini”
“Siap bos”
            Saat itu Ayah bekerja di bengkelnya dan sedang membenarkan sebuah mesin pada bagian mobil yang sampai sekarang belum bisa aku pahami. Sambil aku menyantap makan siang, sejenak aku mengingat kalimat Ayah yang berkata “Kak, nanti kalau kamu sudah besar, jangan jadi seperti Ayah yang bisanya hanya memperbaiki mesin kendaraan orang ya. Pokoknya, derajatmu harus lebih tinggi daripada kami”.  Setelah aku selesai makan siangku, dengan cepat aku menemui Ayah di bengkel. Aku melihat raut wajahnya yang kian menua, lalu aku berkata
“Yah, tunggu Kiki sampai besar ya. Ayah harus liat cucu Ayah. Pokoknya harus..!!” dengan sedikit menekan pada kata ‘harus’.
“Amiin Kak. Lagian yang mengatur hidup kita kan Tuhan, kita hanya bisa menjalankannya”
            Aku dan Ayah pun melanjutkan kegiatan seperti biasanya lalu beberapa menit setelah itu, Ibu datang mengantarkan teko kecil dan dua buah cangkir yang berisikan teh manis. Ayah langsung meneguknya tanpa ada satu tetes yang tersisa. 
“Wah, sepertinya ada yang lagi kehausan sekali nih” ledekku, lalu kami bertiga tertawa bersama.
           
Entah kenapa sangat banyak orang diluar sana yang tak jarang membenci keluarga yang ia miliki hanya karena keadaan ekonomi. Aku justru merasa biasa saja atau bahkan aku bahagia berada di sebuah keluarga kecil yang hanya beranggotakan 3 orang ini. Rumah kami tidaklah sebagus rumah-rumah pada umumnya. Rumahku kami hanya bertembok papan dengan satu ruangan tambahan yang berada di depan untuk usaha bengkel Ayah.
Aku melupakan lamunan ku sejenak dan melanjutkan pekerjaanku membantu Ayah di bengkel. Setelah mesin yang kami perbaiki telah usai, Ayah berkata
“Kak, Ayah mau mengantarkan mobil ini dulu ya ke yang punya. Hanya sebentar kok, Ayah langsung kembali”
“Jauh tidak rumahnya Yah? Kalau jauh, biarkan aku ikut dengan Ayah saja”
“Tidak, kurang lebih hanya sekitar 7-8 menit kok. Kamu di rumah saja temani Ibu mu”      
“Yaaahh.. Ayah, tapi ‘kan aku mau ikut. Ya sudah lah. Jangan lama ya Yah, ingat lho Ayah punya janji kan sama Kiki?”
“Iyaa, Ayah ingat. Ya sudah, masuklah ke dalam rumah dan temui Ibu mu. Katakan Ayah pergi sebentar untuk mengantarkan mobil pelanggan”
“Oke sip Yah”
            Aku menemui Ibu di rumah dan mengantarkan pesan dari Ayah tadi. Setelah itu, aku mandi dan bersiap-siap untuk menyantap makan malam yang telah ibu sediakan bagi kami. Tadinya kami ingin menunggu kepulangan ayah, tetapi sampai pada jam 8.45 malam ia belum kunjung pulang. Akhirnya ibu memutuskan untuk makan duluan.
            Sambil menunggu kepulangan ayah, aku mengambil gitar butut yang sudah tua sekali ke dalam pelukan ku. Secara perlahan, aku bersenandung lembut sambil ditemani secangkir the manis hangat buatan Ibu. Aku bertahan pada posisi itu sampai 15 menit ke depan. Sontak aku terkejut bahwa aku masih memiliki tugas matematika yang diberikan  Bu Yuni tadi pagi. Duuhh, Ayah kenapa lama sekali ya pulangnya… lirihku.
            Aku putuskan untuk mengerjakan tugas itu sendirian, takut nantinya ayah akan pulang lebih larut sehingga akan melupakan tugas itu. Benar saja, sampai pada pukul 23.00 malam, ia belum juga pulang. Aku dan Ibu sangat mengkhawatirkan keberadaan dan keadaan Ayah. Aku menunggu kepulangannya sambil membaca buku di ruang depan. Entah apa yang terjadi aku tidak tahu lagi. Yang aku ingat, mata ku kian memberat dan….
            Keesokannya aku terbangun pada pukul 06.30 pagi. Dengan cepat dan sigap aku langsung mandi, makan dan berangkat kesekolah. Aku seperti lupa akan semuanya karena yang ada dipikiranku hanya ada wajah Bu Yuni yang amat menyeramkan jika aku terlambat masuk lagi. Ku percepat langkah dan meraih sepeda lalu menuju sekolah.
           


Pada periode ke-4, yaitu tepat pelajaran Sains, suara Pak Seto guru BK terdengar nyaring melalui mic yang dipasang dengan speaker.
“Bagi siswa yang bernama Fedrian Kiki, harap sekarang ke ruang guru, terima kasih”
            Sontak aku gugup dan terkejut karena yang dipanggil adalah aku. Lantas aku langsung pergi ke ruang guru dan aku melihat Ibuku disana. Melihat kedatanganku, ia langsung memegang tanganku dan berkata dengan mata yang sedikit sembap.
“Kak, ambil tas mu ya. Kita pulang sekarang, ada hal yang penting sekali”
            Aku tak berani bertanya ada apa, tetapi yang aku tahu sesuatu hal yang buruk telah terjadi sampai-sampai membuat mata Ibu sedikit membengkak. Selama di perjalanan pulang, ia tidak berkata sepatah kata pun tetapi isaknya masih terdengar samar.
            Sesampainya di rumahku, aku mendapati banyak sekali orang yang berbondong-bondong ingin masuk ke rumah ku yang kecil ini. Selangkah aku masuk, aku melihat sesosok orang yang aku cintai telah terbaring lemas diatas kain putih. Rasanya suhu tubuhku menjadi panas, lututku bergemetar dan mataku memerah. Dengan beban tas yang masih menempel di pundakku, aku terjatuh lemas ke pelukan Ayah yang sudah tak berdaya itu. Seakan tak percaya dengan semua itu, aku berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan semua rasa emosi yang ditambah ketidakrelaanku untuk melepas Ayah.
            Ibu memelukku dari belakang dan menenangkan ku. Ia sangat mengerti bagaimana perasaanku saat itu sehingga ia mengajakku untuk pergi ke dapur dan berkata
“Kak, ini memang berat. Tapi kamu haruuss nak..”
“Bagaimana bisa Bu?!! Ayah ‘kan sudah janji kemarin mau bantu Kiki mengerjakan tugas. Tapi Ayah tidak datang dan dia malah pergi untuk selamanyaa..” aku menjawab Ibu dengan nada suara  membentak sekaligus isakan yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya selama aku berbicara dengan Ibu.

           
Setelah mengingat semuanya, aku pun menyadari bahwa sekarang aku adalah seorang anak tunggal tanpa Ayah. Aku benci kenyataan ini!! Ibu yang tadinya sedang melipat selimut, kini telah berada di samping dan memelukku. Entah bagaimana caranya aku dapat melupakan kematian Ayahku yang baru beberapa hari yang lalu. Mungkin rasa sakit hati yang amat luar biasa ini telah membuat ku lupa akan semuanya. Ibu berkata kembali..
“Ya sudah kak. Mandi dulu sana, nanti kamu bantu Ibu ya ke pasar. Bahan-bahan untuk makan malam kita berdua belum ada”
            Mendengar kata ‘berdua’ membuat hati ku kembali perih. Dahulu, yang aku dengar selalu kata ‘kita bertiga’. Aku sangat sayang pada Ayah, aku selalu ingin mendengarkan setiap nasihat yang keluar dari mulutnya. Sekarang, aku ingin Ayah kembali…

2 tahun kemudian~

“Ibuu!! Lihatlah nilai ku. Aku tidak menyangka akan mendapatkan nilai yang sangat bagus seperti ini” kata ku sambil berlari menemui Ibu di dapur dengan kaus kaki dan tas yang masih menempel di seragam SMP ku.
“Wah, Ibu bangga sekali nak. Pertahankan terus ya sayang.. Jangan mau kalah sama yang lain. Angkat derajat keluargamu ya kak”
            Mendengar kata ‘angkat derajat’pada kalimat yang baru saja Ibu lontarkan, pikiranku kembali melayang kepada kalimat emas yang pernah Ayah lontarkan kepada ku. Kak, nanti kalau kamu sudah besar, jangan jadi seperti Ayah yang bisanya hanya memperbaiki mesin kendaraan orang ya. Pokoknya, derajatmu harus lebih tinggi daripada kami, kalimat itu kembali terngiang…
“Bu, andai Ayah masih ada ya. Pasti dia akan senang sekali aku naik kelas dengan nilai yang sebagus ini…”
“Dia sudah tersenyum dari atas kok kak. Dia akan selalu berada disini… bersama kamu,,” sambil menunjuk hatiku dengan jari telunjuknya lembut.

Malamnya~

 “Kak, Ibu ada seseorang yang ingin dikenalkan sama kamu. Ibu harap kamu bisa menerimanya yaa”
            Lalu, Ibu datang dengan seorang pria dewasa asing dan membawanya ke hadapanku. Aku merasa kaget dan tidak menyukai kesan pertama yang pria itu berikan. Ibu mengatakan bahwa pria ini akan menjadi pengganti Ayah. Sontak aku terkejut dan langsung menarik tangan Ibu ke dapur.
“Apa maksud Ibu? Tidak ada yang bisa menggantikan Ayaaahh, Bu!! Aku tidak mau!”
“Kak, ini demi kebaikan kita semua. Kita sudah tidak memiliki pemasukan apapun untuk kelanjutan hidup disini.. kebetulan dia teman SMA yang sudah menyukai Ibu sejak lama. Ia juga memiliki sebuah usaha rumah makan kecil-kecilan yang nantinya bisa kita olah lagi. kita mau makan dari mana sayang? Ibu tidak ada keterampilan apapun untuk itu.. Ibu sudah sangat senang dengan prestasi kamu di sekolah. Tetapi Ibu ragu apa kamu akan dapat melanjutkan sekolah nantinya? Ibu harap kamu mengerti kak..”
“Jadi Ibu lebih memilih laki-laki itu dibanding Ayah?! Tega sekali Ibu berlaku seperti itu..”
“Sejujurnya Ibu lebih menyayangi Ayahmu kak. Tetapi ini demi kebaikan kamu. Ibu takut sekali kalau nantinya jika kamu tidak dapat bersekolah lagi. Biarpun Ibu tidak sepenuhnya memiliki hati dan perasaan kepadanya, tetapi biarlah kamu tetap memiliki Ayah meskipun tiri..” lirih Ibu.
“Ya sudah lah, Bu. Aku sudah capek. Aku mau tidur. Terserah Ibu saja” Aku langsung memotong percakapan itu dan melangkah ke kamar.


Sebuah kipas angin butut menemani malamku yang kelam dan kelabu di kamar. Tidak, aku tidak sendirian. Aku ditemani oleh gitar peninggalan Ayah. Aku memeluk dan memetiknya secara perlahan sehingga aku dapat bersenandung dengan merdu.

“Yah.. Ayah mau ‘kan mengajari aku caranya bermain gitar, soalnya aku punya satu teman di kelas dan dia sangat mahir memainkannya, ‘kan aku jadi iri Yah..”
“Iyaa kak boleh..”
“Yeey!! Kalau mulai malam ini bagaimana Yah? Kebetulan aku sedang tidak ada tugas untuk besok”
“Ya sudah kalau begitu. Ambilkan gitarnya di bawah meja Ayah di kamar”

-mengambil gitar-

”Ini Yah..”
“Nah, sekarang coba praktekkan bagaimana cara memegang gitar yang baik”
“Ehmm, seperti ini bukan, Yah?” dengan posisi tangan yang menurut ku benar.
“Hahahahaa.. bukan kak. Masa iya batang gitarnya ada kanan. Ada-ada saja kamu ini”
“Ohh hehee ‘kan baru belajar Yah. Ahh Ayah bagaimana sih..”
Kami tertawa bersama karena kebodohan yang baru saja aku lakukan. Hahaha, yaa aku sangat menyukai wajah Ayahku saat melihatnya tertawa. Hal itu akan membuat matanya yang sudah sipit menjadi semakin sipit lagi sehingga matanya hampir ‘tak terlihat. Kami pun melanjutkannya dengan mengetahui interval dan juga kunci-kunci dasar pada nada. Begitu sabarnya Ayah untuk mengajari ku walau selalu salah dalam menempatkan jariku.
Setelah 4 hari mempelajari gitar dengan Ayah, aku merasakan sakit pada jari-jari kiriku yang cukup menyiksa. Pada ujung jari-jariku, keseluruhannya merah dan seperti ingin bernanah. Awalnya aku tidak mengetahui sebab-musabab dari tragedi yang menyakitkan ini.
“Ayaahh, jari ku sakit sekalii.. apa ini karena aku belajar main gitar ya Yah?”
“Iyaa kak. Bagi pemula memang itu hal yang biasa. Kalau kamu mau terus belajar gitar, nantinya kamu akan terbiasa dengan sakit itu dan akan mahir memainkannya. Hayoo, mau berhenti saja atau lanjut?”
“Lanjut dong!!”
Aku merindukan Ayah..


Tidak terasa sudah memasuki tahun ke-2 aku memiliki Ayah tiri. Bagaimana pun aku tidak menyukainya. Walau dia sama sekali tidak memiliki kesalahan apapun padaku, tetapi tetap saja. Dia sudah berani menggantikan posisi Ayah. Dapat dihitung dalam satu hari hanya beberapa percakapan saja yang kami lakukan.
Tentunya, aku juga dapat merasakan adanya peningkatan pada ekonomi keluarga kami. Ayah tiriku sudah merenovasi rumah kami yang sudah sangat memprihatinkan ini. Tempat bengkelnya Ayah juga telah disihirnya menjadi sebuah kedai kecil sebagai pekerjaan Ibu jika dia memiliki waktu luang. Sampai sekarang aku juga masih dapat melanjutkan sekolahku sampai aku menduduki kelas 3 SMP. Sebenarnya aku sangat bersyukur memiliki Ayah tiri yang baik seperti dia. Tidak seperti kebanyakan orang tua tiri yang jahat dan kejam seperti yang diceritakan pada film-film yang pernah aku tonton.
Rasanya hati ini masih sangat sulit untuk menerimanya menjadi sosok Ayah yang baru biarpun sudah 2 tahun kami hidup bersama. Terkadang aku berpikir, kenapa sih aku membencinya? Padahal dia sudah sangat membantu keluarga ku terutama Ibu. Dia juga sama sekali tidak pernah berlaku kasar kepadaku. Apa yang aku perbuat ini ya, Tuhan?


2 minggu kemudian~

“Kak, Ayah punya kenalan di tempat kerja Ayah. Katanya, anaknya baru saja lolos masuk ke dalam sekolah bertaraf Internasional di Kota. Jadi Ayah berpikir akan mengikutsertakan kamu juga. Nilai-nilai akademikmu juga bagus-bagus ‘kan? Kamu mau nak?”
            Jlep!! Dari mana dia tahu kalau aku memiliki nilai-nilai yang baik? Ahh pasti Ibu yang memberitahukannya, kataku dalam hati.
“Ya sudah, aku mau… Ayah” dengan kata ‘ayah’ yang hanya terucap dalam hati.
            Kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Sebenarnya, aku sangat ingin memanggilnya Ayah. Tetapi rasanya kata itu selalu tersangkut pada tenggorokanku dan akhirnya tidak terucapkan. 
            Mulai hari itu juga, aku ingin mengubah sikapku kepada Ayah tiri yang selama ini sudah sangat menyayangiku dengan tulus dan sabarnya. Aku mulai memanggilnya dengan sebutan Ayah walaupun terasa masih berat dan juga mulai membantu dalam mengerjakan pekerjaannya. Ia terlihat sangat senang dengan perubahanku yang menurutnya sangat mengejutkan ini.
            Beberapa hari kemudian, Ayah menemaniku untuk mengikuti test yang diadakan untuk masuk ke sekolah yang bertaraf Internasional itu. Ia dengan sabarnya menunggu ku dari mulai pukul 12.00 sampai pada pukul 14.30. Aku heran, mengapa dia tidak pulang dulu saja ke rumah dan mengerjakan apa saja yang bisa dia kerjakan? Tetapi ia berkata bahwa dia ingin sekali menemaniku dan berharap aku dapat lulus dalam test itu.
           

Keesokannya~

“Bu.. ada lihat baju basket ku tidak? Aku mau latihan nih
“Tidak kak, memangnya kamu letakin dimana kemarin?”
“Ahh Ibu.. kalau saja aku tahu, aku tidak akan bertanya sama Ibu ‘kan? Astagaa sudah jam segini, tuh ‘kan Bu aku sudah mau telat ini..”
“Ya sudah, kamu pakai baju yang lain saja dulu. Nanti Ibu dan Ayah akan mencarinya.. sudah pergilah nak, nanti kamu semakin terlambat”
Daahh Ibu”
“Ya sayang, hati-hati naik sepedanya yaa”
            Sepeda ku dayung kian kencangnya, berharap aku tidak akan terlambat. Tetapi pupus sudah harapanku. Ketika sampai di sekolah, tidak ada satu pun murid basket yang terlihat oleh mata ku. Aku melangkah kelapangan basket, dan dengan seketika aku mendengar suara Pak Bambang guru basket meneriakkan sebuah nama. Tamatlah riwayat ku
“Kikiiii!! Sini kamuu..!” katanya dengan garang







2 minggu kemudian~

Krriiing.. Kriingg.. Kriing..
Suara itu menandakan kepulanganku ke rumah. Rumah yang mengajarkan ku banyak nilai-nilai kehidupan. Disinilah tempatku tumbuh dan berkembang dan dididik oleh ketiga orang tua ku. Ya, Ayah, Ibu, dan juga Ayah tiriku. Sambil memarkirkan sepeda ke pinggir, aku melihat Ibu ku duduk di teras dengan sebuah map kertas berwarna kuning emas di tangannya. Aku sama sekali tidak tahu berita apa yang membuat wajahnya kian bersinar bak mentari pagi.

Dengan cepat ia melangkahkan kaki ke arahku, memelukku, serta menangis terharu di pundakku. Dibalik pelukan Ibu yang sedikit menghalangi pandanganku, aku melihat dengan sekilas Ayah yang berjalan menuju kami. Lantas, ia ikut tersenyum dan memelukku. Sepertinya aku tahu ada apa, kataku dalam hati.
Benar saja, Ibu mengatakan bahwa aku lulus seleksi untuk masuk ke sekolah bertaraf Internasional dengan beasiswa. Terimakasih ya Tuhaann.. akhirnya aku dapat memenuhi permintaan Ayah yang akan mengangkat derajatku dan keluargaku. Aku ‘tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan Ayah tiri yang sudah sangat baik pada ku. Jika tanpa kehadirannya, mungkin sampai sekarang aku belum memiliki jalan untuk memenuhi permintaan Ayah itu.
Hari-hari yang aku lewati semakin terasa menyenangkan. Pada saat aku mulai menerima keberadaan dan posisi Ayah tiri ku di rumah, dari situ lah aku merasakan kedamaian dan kehangatan dalam hati juga jiwaku. Aku mulai menyayangi Ayah tiriku…


            Pada suatu malam yang ditemani oleh hujan yang deras, aku duduk menyendiri di kamar. Aku sedang asyiknya mengkhayalkan kehidupanku kelak jika telah bersekolah di sekolah yang aku dambakan itu, ya walaupun memakai sistem asrama tetapi aku yakin ini adalah jalan yang tepat. Mungkin di karenakan cuaca yang dingin akibat hujan, perutku pun mulai ‘bernyanyi’ dengan lembut. Dengan langkah gontai aku melangkahkan kaki ke arah dapur, membuka kulkas, dan siap untuk mencomot beberapa roti yang telah tersedia di sana. Aku melangkah lagi ke kamar dengan membawa beberapa roti serta selai ke kamar serta melanjutkan lamunanku yang sempat terputus tadi.
            Ketika aku melewati kamar orang tuaku, Aku tidak melihat Ibu dan aku hanya melihat Ayah tiriku di sana. Lantas aku masuk ke dalam kamar dan menemuinya sedang menulis sesuatu. Mengetahui keberadaanku, dengan cepat ia memasukkan kertas yang tadinya sedang ia tuliskan ke dalam laci.

“Yah, Ibu mana? Kok tidak ada?”
“Tadi dia ke rumah sebelah kak, ada hal yang penting katanya..”
“Ohh begitu.. eh ini aku bawakan roti. Ayah mau tidak?” Astagaa.. bagaimana mungkin kalimat itu bisa terucap? Aku sama sekali tidak berniat untuk menawarkannya roti ini.. Tetapi, ahh ya sudah lah. Toh sekarang, dia adalah Ayah ku juga.
”Wah, boleh.. boleh.. kebetulan Ayah juga sedikit lapar hehe”
Alhasil untuk yang kali pertama aku makan berdua dengan Ayah tiriku...


Beberapa bulan setelah itu~

-Bandara-
“Kak, kamu hati-hati yaa disana. Ingat! Selalu dekat dengan Tuhan dan juga komunikasi dengan kami yang ada disini”
“Iya Ibu.. doakan juga aku selalu. Semoga nantinya jika aku pulang aku akan membawa kesuksesan yang aku janjikan dengan Ibu”
Seketika Ibu melingkarkan lengannya ke pundakku dan menangis lagi. Sepertinya ia masih begitu berat untuk melepaskan aku anak sematawayangnya untuk pergi bersekolah di kota lain. Tetapi ini harus! Aku harus bisa memenuhi janji ku kepada orang tuaku. Aku merasakan kehangatan napasnya tepat di pundak kiriku. Setelah Ibu memelukku, pandangan ini pun beralih ke Ayah tiri. Aku dengan segera memeluknya dengan sangat erat. Ayah melepaskan pelukannya. Begitu pula aku. Dalam jarak yang amat dekat mata kami bersitatap. Mata Ayah juga mulai berkaca-kaca. Beberapa menit kami terdiam. Seperti ada bahasa yang susah disampaikan. Setelah itu aku memulai petualangan ku untuk menuju kesuksesan yang sudah menantikan kedatangan ku.







2 bulan kemudian~

Tak terasa sudah aku hidup jauh dari orang tua selama 2 bulan. Sebenarnya bukanlah hal yang terlalu sulit, asalkan kita dapat mandiri dalam melakukan segala sesuatu. Minggu ini, adalah minggu ujian. Dimana seluruh siswa-siswinya mengadakan UTS. Sebelum aku memulai hari pertamaku mengadakan ujian di sekolah ini, aku menyempatkan waktu ku untuk menelepon orang tua nan jauh di sana.
Hari pertama dan kedua, aku lalui dengan lancar. Tetapi di hari yang ketiga, setelah pulang sekolah aku mendapat kabar yang sangat-sangat buruk. Kabar yang mampu membuat ku diam seribu bahasa. Kabar yang ‘tak ku duga akan seperti ini.
“Halo kak, ini Ibu” dengan suara yang serak seperti habis menangis.
Lho.. Ibu kenapa? Ibu habis menangis ya? Siapa yang buat Ibu sedih? Ayo cerita ke Kiki, Bu..”
“Ayah mu… Ayah mu meninggal nak..” kata Ibu dengan suara yang amat parau
“Ih Ibu jangan bercanda dong..” dengan sedikit deg-degan, takut hal yang dikatakan oleh Ibu adalah benar.

“Iya sayang.. Ia mengalami kecelakaan pada saat dia sedang pergi ke bank untuk mengirimkan uang kepada mu, kak. Ibu juga tidak tahu bagaimana itu semua bisa terjadi. Tetapi sebuah sedan hitam kecoklatan menghantam tubuh Ayahmu pada saat ia menyebrang sampai ia langsung meninggal pada saat itu juga”
Tak tahan dengan kalimat yang baru saja ia lontarkan, ia kembali menangis dengan sedihnya lewat telepon yang masih tertempel di telinga kanan ku. Tak kuat mendengar tangisan Ibu yang sangat memedihkan hati, aku menangis dalam diam. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini. Apakah tidak cukup bagimu telah mengambil Ayahku? Mengapa sekarang Engkau mengambil Ayah tiriku, Tuhan? Kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga aku tak layak memiliki seorang Ayah? Hidup ini tidak adil!!
           

Sejak saat itu aku melanjutkan hari-hari di asrama ku dengan setengah hati. Aku masih tidak dapat menerima semua kenyataan pahit yang harus aku terima ini. Hingga beberapa hari kemudian pasca kematian Ayah, Ibu kembali berbicara melalui telepon.
“Kak, bagaimana kabarmu disana? Sudah makan siang belum?”
“Ya Puji Tuhan sehat. Sudah kok, Bu.. tadi lauknya juga enak. Ibu sudah makan juga kah?”
“Iya Ibu juga sudah makan kak. Ohya kak kamu masih simpan koper kamu yang kemarin kamu bawa tidak?”
“Iya, Bu. Kenapa?”
“Ibu baru mengingat kalau kemarin sewaktu kita ada di bandara, Ayah mu sempat menyelipkan sebuah surat di kantung yang paling kecil yang ada di kopermu. Coba nanti kamu periksa ya, siapa tahu masih ada”  
Lho, kok bisa Bu?”
~~
“Yah.. Ayah ngapain malam-malam begini belum tidur, itu sedang apa?”
“Nggak apa-apa, Bu”
“Nah, itu surat untuk siapa Yah?”
“Ini surat untuk Kiki. Nanti kalau misalnya dia sudah berangkat ke sekolahnya, tolong katakan bahwa aku telah menyelipkan surat ini pada kopernya di laci yang paling kecil ya, Bu”
“Iya Yah.. Tetapi itu suratnya tentang apa kalau boleh tahu?”
“Ya.. Ibu lihat sajalah nanti”…

           
            Setelah selesai bertelepon dengan Ibu, aku langsung berlari ke arah gudang untuk mengambil koperku. Bau apek dan berdebu dengan cepat menghiasi indra penciuman dan penglihatanku. Ahh betapa kotornya tempat ini, gerutu ku dalam hati. Lantas aku menemukan koper itu dan memeriksa tiap lacinya. Benar. Aku menemukan sepucuk surat yang telah dilipat dengan manisnya. Dengan perlahan aku mengambil surat itu dan membawanya keluar, ke kamar ku.
            Aku membaca surat itu dengan sangat hati-hati. Aku merasa pipi ku telah basah dan air mata pun akhirnya keluar dengan deras. Sepertinya mataku sudah ‘tak sanggup lagi untuk membendungnya. Rasa perih yang dengan cepatnya menjalar keseluruh tubuhku membuat hatiku melemah. Surat itu terjatuh karena getaran tanganku yang kian menguat. Aku menangis sejadi-jadinya..


...







                                                                                  Nak…
Air mata ini tak mampu mengungkapkan kesedihan saat kau ‘kan pergi
Semua yang telah kau lakukan akan selalu menjadi memori yang indah ‘tuk di kenang,
Biarpun engkau bukanlah darah dagingku..
Akan ku korbankan semuanya,
Hanya untuk menikmati senyummu
Kejar impianmu dan jangan menyerah
Aku menyayangimu anakku..
                                                                       
                                                                                    Ayah